ANGAN-ANGAN ROMANTISME
Diceritakan oleh :
M. Wildan NAfi’
OBITUARI DIRI
Sebut saja aku, Wildan..
Mahasiswa yang sedang galau akan kegiatannya akhir-akhir ini (27.11.2006). Perasaan tidak menentu selalu saja kian menghampiri di setiap malam. Air mata, tak henti-hentinya menetes walau hanya setitik saja. Yach, begitulah hidup mungkin yang dirasa. Rasa kecewa, sedih, terkebirikan, maupun senangpun selalu ada saja. Berputar dengan waktu yang selalu mengajak untuk berlomba lari. Lari dari kenyataan.
“ Duh.. waktu mungkin sekarang ini sudah menyamai lariku ”, Sergah Wildan ketika mencoba merenungi arti kehidupan ini.
Kegiatan yang terbentuk serasa tak teratur.. tidak seperti dahulu, yang apabila dilalui akan menimbulkan kepuasan lahir sekaligus rasa batin dalam diri. Hari demi hari selalu terasa ringan untuk dirasa dan dikenang. Itu dahulu.. zaman sebelum manusia yang dikatakan terhormat ini dibandingkan makhluk ciptaan Tuhan lainnya, belum terjun dalam masa pendewasaan di lingkungan pendidikannya.
Sekarang.. tubuh yang kian lama makin kecil.. kecil, dan mengurus tak begitu digubriskan itu, yang terpenting perut yang Tuhan berikan tidak tersakiti, mengungkapkan perasaannya bahwa hidup ini berat juga untuk dilakukan terlebih untuk dirasakan. Apakah ada perubahan terhadap hidup ini ataukah hidup ini mulai memepermainkan tubuh ciptaan-Nya ini?
Masa terus saja berputar, seperti halnya bulan yang selalu saja mengitari bumi sesuai jalur orbit yang telah digariskan Tuhan. Proses yang mengganas ini terus terjadi tanpa disadari secara riil. Tak terasa pula kini hari demi hari yang tak begitu menyenangkan ini mewarnai sebuah keinginan akan perasaan terhadap opposanku.. PEREMPUAN.. ya, perempuan. Seseorang yang diempukan, yang dijempolkan.
Ternyata, benar juga apa yang difirmankan oleh Tuhan bahwa manusia telah diberikan seorang pasangannya masing-masing sesuai dengan jalur yang dimiliki setiap pribadi itu. Termasuk pula dengan hasrat untuk memiliki akan keadaan itu. Yang kafir akan mendapatkan sesuai kekafirannya, yang alimpun akan digariskan kepada sesuatu hal yang alim pula.
,,,-,,,
JEGLER
Seorang perempuan. manis, dan cerah dipandang, duduk sore itu di sebuah kursi formal, tempat duduk hakim anggota seharusnya menempatkan diri. Sebuah ruang mahasiswa tempat melakukan telaah ilmu waktu itu, dipenuhi puluhan mahasiswa dan mahasiswi. Indah memang terlihat kala itu. Suasana yang memihak terjadi secara otomatis begitu saja tanpa ada makhluk yang mensettingnya. Proses transformasi ilmupun berlangsung dan terjadi begitu saja. Waktu mulai jauh berada di belakang aktivitas yang tengah dilalui. Tak terasa bahwa kita semua yang ada diruangan itu sedang berlomba dengan waktu, momok menakutkan yang setiap saat dapat meluluh lantakkan nasib manusia.
Di tengah proses yang mengasyikkan itu, pikiran yang fana mulai terganggu. Entah mengapa hal ini begitu saja terbentuk. Tak henti-hentinya arah pandanganku selalu tertuju kepada perempuan itu, sosok perempuan yang menimbulkan hatiku mulai luluh dikit demi sedikit. Inikah perempuan yang selalu dibicarakan setiap mahasiswa saat proses pendidikan di universitas biru ini berlangsung. Aku mulai mengakui akan hal itu. Akupun mengakui..
Perasaanpun kian berubah ketika sosok yang mulia itu, menurutku, mulai memberikan pandangan nyata tentang hidup ini. Mimpi-mimpi mulai terkonsep di otak kananku saat itu pula.
Pertentanganpun muncul.
“ Agh, ada apa ini? Adakah yang salah dengan pikiranku? Tuhan, aku sedang belajar.. Mengapa ada hal yang mengusikku hari ini ? ”, kataku dengan rasa gelisah.
,,,-,,,
KABUT HILANG
Malam itu, saat keheningan mulai nampak dan kesunyian malam mulai terasa, aku melangkahkan kaki setapak demi setapak mengarah ke sebuah kendaraan roda dua yang butut.
Serasa terengah-engah dan badanpun mulai gontai, kendaraan bermotor itupun kunaiki dan meluncur bersama dengan tujuan yang pasti, yakni sebuah Lembaga Kemahasiswaan di sebuah perguruan tinggi dimana manusia yang tidak pernah tahu akan keadaannya ini menuntut ilmu, Pers Mahasiswa KEADILAN.
Yah, sebuah Lembaga kemahasiswaan milik Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia yang selalu menyuarakan mengenai persamaan dan keberpihakan kepada setiap yang tertindas, bisa dibilang itulah jiwa yang dinamakan “jiwa transformatif”.
Transformatif hingga sekarang ini, dtempatkan sebagai landasan ideologi PersMa KEADILAN. Itulah yang membuat aku masih menyayangi tempat itu, banyak sudah yang telah KEADILAN berikan padaku hingga sampai saat ini. Membentuk saudara-saudara baru bagiku, terbentuk pula pola pikir seorang yang hina ini menjadi lebih berorientasi kepada masa depan, sebuah keadaan yang selalu dicita-citakannya.
KEADILAN pulalah yang menjadikan manusia terbelakang ini memiliki keberanian untuk menyuarakan perasaannya walaupun hanya dalam beberapa lembar tulisan. Sedikit keberanian konkritnya.
Beberapa ruas jalan kulalui, begitupun tikungan-tikungan terjal kulewati, akhirnya sampailah aku didepan sebuah pintu bangunan mini namun terlihat kokoh. Jelas saja dapat kemudian tertebak, di depan ruang KEADILAN.
Seketika itu pula, kulongokkan kepala disudut pintu sambil berusaha kusembunyikan badanku dengan maksud mengintip dan mencari tahu gerangan apakah yang sedang terjalin di dalam ruang jurnalis kecil itu. Adakah putaran dialektika ataukah roda intelektual yang terjadi.
Terperanjat pula aku disaat itu.
“ Weleh.. ternyata ada Pimpinan Umum dan Sekretaris Umum sedang berbincang “, dalam hati kecilku ini berkata.
Entah apa yang diperbincangkan aku tidak tahu dan juga tidak sedikitpun ingin mengetahuinya. Akhirnya, merekapun mengetahui akan posisiku dan tanpa merasa malu akupun masuk dalam ruang sempit dengan beraneka ragam barang-barang jurnalis ditambah lagi dengan beberapa kali bibirku tersenyum kepada keduanya.
“ He..he..he..he.. ”
,,,-,,,
RENUNGAN TANDA TANYA
Duduk disebuah kursi kecil merah dengan empat kaki roda, manusia hina mencoba menyandarkan punggungnya di tempat sandaran kursi nan empuk itu. Perbincanganpun terjalin saat itu, aku dengan seorang calon ibu yang penyabar, ketika itu menjabat selaku Sekretaris Umum lembaga yang sedang kita tempati saat perbincangan mulai terjadi.
Tanpa disadari, ia bertanya kepadaku berkaitan dengan permasalahan cinta. Sambil menceritakan hal yang berkait dengan tindakan-tindakan dimasa lalunya, iapun sembari bertanya disetiap selanya. Begitupun dengan pertanyaan yang mengharuskan aku ikut juga menjawabnya.
“ Alamak, percintaan saja aku belum mengetahuinya, apalagi telah cukup fasih dan lihai mengalaminya.. “, dalam hatiku mencoba berfikir.
Seolah aku ini sedang menjadi raja cinta saat itu dan tanya jawab itupun berlangsung cukup lama hingga akhirnya kita mempunyai titik kesadaran dibawah lima puluh persen, kira-kira. Mata mulai nampak merah dan seakan ingin sekali menutup diri. Ngantuk pada dasarnya.
Atas kehendak seorang temanku itu, bisa juga aku anggap saudaraku di KEADILAN, akhirnya kita memberanikan diri untuk melaju pulang. Ia ke tempat kosnya, aku ke tempat orang tuaku tinggal.
Dalam perjalanan pulang, aku mulai teringat akan perempuan yang saat itu masih sering sekali muncul dalam pikiran nisbiku. Kebingunganpun datang lagi disaat motor bututku melaju beserta seorang pengendara yang kehabisan akalnya. Sampai-sampai lampu lalu lintas saja dilalui tanpa sadar untuk melihat nyala lampu sedang hijau ataukah merah. Jadi melamun rupanya si pengendara ompreng itu..
,,,-,,,
JAWABAN MASA DEPAN
Malam kamis. Waktu yang membuat diri manusia tak berilmu ini mulai sibuk dengan beberapa tamu tak diundang yang datang ke rumah orang tuanya dengan alasan bahwa orang tua beberapa hari lagi mulai mempersiapkan diri memenuhi undangan dari Sang Pencipta.
Diakui memang, beberapa waktu mendatang yang bisa dihitung dengan jari (10.12.2006) kedua orang tua yang tengah mulai beranjak renta itu akan melaksanakan panggilan dari Tuhannya manusia, yakni mengunjungi baitullah, rumah Allah dengan niat untuk berhaji.
Satu persatu, tamu-tamu berdatangan dan ada pula kemudian tamu yang baru, muncul sesudahnya. Dengan rasa ikhlas untuk membantu, akupun, walau dengan tindakan ala kadarnya, ikut andil mengurangi kerepotan keduanya. Hanya seperti inilah yang dapat aku lakukan akhir-akhir ini untuk membalas jasa mereka terhadapku selama diasuh oleh mereka hingga dewasa seperti halnya sekarang.
Malampun larut dan sepi. Dengan tubuh yang seakan remuk karena hawa angin yang serasa menyiksa tulang-tulang sendiku, aku terlentangkan tubuhku di sebuah kasur kecil dalam sebuah kamar yang telah diijinkan orang tuaku tidur disana. Pikiran untuk selalu mengkhayal mengenai perempuan mulia itupun kembali muncul. Tiba-tiba, aku merasakan sebuah denyut jantung berdegup seakan aku sedang berada didekat orang yang ingin sekali kusayangi.
Aku berlogika dengan diriku.
“ Tuhan menciptakan sosok manusia. Sosok makhluk ciptaan yang dibuat berbeda dengan makhluk lainnya. Dikatakan lebih sempurna pula. Diketahuipun terdapat manusia dengan bentuk laki-laki dan yang lain dalam bentuk perempuan ”, hati kecilku hendak mengutarakan idenya.
Akupun mulai menyangka bahwa manusia dicipta dalam dua bentuk dengan ada maksud agar dari keduanya itu timbul rasa saling memiliki satu sama lain. Tak lebih dari itu.
Setelah kupikir-pikir, tiada salah seandainya saja manusia yang hina ini mengutarakan keinginan akan rasa kasih sayang terhadap wanita yang baik untuk hidup dalam sebuah kebersamaan.
Dengan rasa minder yang berlebih, maka manusia terpinggirkan ini mencoba menulis sebuah surat, dengan impian untuk segera dibaca oleh perempuan yang dikaguminya itu, terlebih untuk mendapatkan ketetapan akan ajakannya. Kurang lebih seperti berikut surat buatan manusia bodoh itu:
Yogyakarta, 29 November 2006
Kepada: Soerang Perempuan Mulia,
xxxxxxxxxxxxxx…
Tak ada kata yang bijak diucapkan sebagai awal kecuali sebuah salam,
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Mohon maaf atas semua kelancangan yang tengah Wildan perbuat ini. Sekali lagi Wildan ingin meminta maaf.. Entah mengapa, seoarang manusia hina yang diberikan nama oleh kedua orang tuanya, M. Wildan Nafi’, itulah nama aku, memberanikan diri menulis surat ini. Mencoba menggadaikan rasa malu terhadap perempuan yang dirasa mulia, yach, kamu xxx..
Awal mula, Wildan tidak tahu menahu tentang xxx.. yang Wildan tahu hanya nama, sebatas itu saja karena Wildan yang bodoh ini, mudah sekali untuk lupa. Itupun Wildan tidak menyadarinya. Maklum saja, disebabkan karena Wildan merupakan manusia yang bodoh.
Pada pertengahan proses kuliah Wildan di FH-UII, mulai banyak beredar pembicaraan mengenai xxx.. Wildan sempat berfikir, yang mereka bicarakan itu seorang teman satu jama’ah Wildan saat orientasi mahasiswa berlangsung dulu, sebelum Wildan melakukan sistem belajar mengajar. Nama jama’ah itu sangat Wildan ingat, Jama’ah xxxxx.
Tanpa disengaja, Wildan sedikit mulai tahu akan siapa xxx. Kala itu, Wildan sudah bisa melihat xxx.. Ternyata banyak memang yang mendekati xxx. Entah itu yang hanya untuk berbicara, atau mungkin yang sedang berusaha untuk mendekati.
Saat itu keinginan Wildan untuk menyukai perempuan belum terbentuk sama sekali. Memang, Wildan ketika itu belum ingin menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Wildan masih memikirkan diri sendiri yang diberikan tugas oleh orang tua untuk belajar di perguruan tinggi Hukum UII. Serasa berlalu, Wildan lalui semua itu hanya untuk belajar dan berproses dalam pembelajarannya.
Ditengah situasi yang sekarang ini, Wildan mulai melepaskan berbagai kegiatan yang sedang dijalani.
HMI-MPO, sebuah organisasi islam yang terbentuk di FH-UII, dimana Wildan banyak belajar berpijak mengenal secara umum akan arti politik dan beberapa kejadiannya yang telah bisa Wildan baca dan Wildan rasakan, sudah mulai ditinggalkan walaupun Wildan sendiri bingung tentang status disana sekarang. Masih dianggap atau tidak, itupun tidak Wildan hiraukan.
JHTC, sebuah kumpulan teman bermotif motor Honda yang terbentuk pula di FH-UII juga tengah dilepas sedikit demi sedikit walaupun hal ini serasa meninggalkan sebuah kediaman tidur, sulit memang dikarenakan banyak teman menjadi akrab dengan Wildan saat andil disana.
Begitu pula LPM KEADILAN, sebuah lembaga Pers Mahasiswa yang ada di FH-UII, yang menjadikan manusia hina ini lebih baik dari sebelumnya, tempat dimana Wildan mendapatkan saudara-saudara baru terlebih seorang Kakak yang sangat baik dan selalu dapat dibanggakan oleh setiap orang, mulai dalam proses untuk dilepaskan. Berat juga memang untuk dilaksanakan namun benar juga apa yang dinasehatkan oleh kakak Wildan di KEADILAN bahwa semua itu pilihan, selesaikan dengan elegan dan cantik agar kita selalu dihargai. Wildan sangat sedih xxx sampai sekarang ini..
Yach, itulah kisah hidup Wildan sekarang..
xxx.. entah ada apa pula, disaat Wildan membutuhkan seseorang yang dapat membantu, xxx muncul. Entah mengapa itu terjadi dan Wildanpun heran mengapa yang muncul itu xxx.. bukan perempuan yang lain, toh banyak perempuan di FH-UII yang dirasa banyak laki-laki adalah cantik, melebihi kecantikan xxx. Inikah yang dinamakan bahwa perasaan suka itu nisbi sifatnya ? Wildan merasa iya..
xxx… Wildan dengan rasa bersalah ini ingin mencoba sesuatu usaha untuk memperoleh izin dari perempuan mulia yang Wildan ingin sekali berada disisinya dan ingin pula Wildan ada untuknya, begitupun sebaliknya. xxx lebih tahu akan maksud Wildan ini. Wildan ingin mencari calon isteri. Itu semua ada di xxx..
Wildan berfikir, keadaan orang tua tidak akan dapat dijadikan acuan dalam proses sekarang ini. Wildan harus menyelesaikan kuliah dengan cepat dan segera mendapatkan pekerjaan, berpisah dari rumah orang tua yang sekarang ini Wildan tempati, dan kemudian melangsungkan perkawinan dengan perempuan pilihan Wildan sendiri, membentuk sebuah keluarga.
Ya, inilah usaha Wildan untuk mencapai konsep-konsep masa depan yang tengah Wildan jadwalkan. Wildan sedang melaksanakan program dalam jadwal hidup Wildan sekarang ini xxx.. Itu semua tidak akan terjadi dengan cepat begitu saja.
Wildan sekarang merasa sangat hina sekali dengan surat ini, terlebih seorang perempuan mulia membaca semua ungkapan Wildan ini. Wildan takut, takut untuk diacuhkan.. xxx, Wildan mohon ya, tolong maafkan perbuatan yang tidak gantle ini.
Wildan dalam hal ini ingin memohon, maukah xxx menjadi perempuan yang Wildan idamkan ? Mau ndak xxx jadi pacar Wildan ?
??
??
??
xxx.. hanya itu yang mungkin ingin Wildan ungkapkan, Wildan harap xxx menjawab ini, baik itu melalui secarik tulisan ataukah secara langsung menemui manusia yang hina ini..
Yang jelas, Wildan sangat malu. Maaf..
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Dari seorang manusia hina yang mengidamkan perempuan mulia,
M.WILDAN NAFI’
Lega menyertai perasaan yang sedang diburu pertanyaan itu. Harapan muncul, menyatakan akan perasaan dan keinginannya untuk hidup bersama menapak keindahan melalui nasib dunia. Pemuda yang kurus kering itu, setelah memberikan gambaran yang massif, kemudian mulai menunggu akan datangnya keajaiban dari Tuhan. Yang dilakukan adalah hanya menunggu. Tak ada usaha lain yang harus dilakukannya dikarenakan sudah ada sebuah pelajaran yang diperoleh sebelumnya untuk menerima kenyataan,betapapun sulit dan menyakitkan.
“ Mudah-mudahan bisa membantu permasalahan yang ada. Apa yang menimpamu adalah yang terbaik, karena Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi kita. Dan syukuri segala sesuatunya ini karena betapa pahit keadaannya, pasti terdapat sesuatu yang ingin Tuhan hadiahkan untuk hidup kita ”, hatinya memberikan wejangan penutup sambil berlalu begitu saja dan kemudian lenyap.
,,,Selesai,,,
Cerita ini aku persembahkan untuk hidupku melalui semua manusia yang mengenalku di fase kehidupan pertama ini. Special thanks for:
ΘΘΘ Sahabat-sahabatku.
Taufiq Husein Kesuma, Reza Agung D. K. , Heriyanto, Kharismawan Ali, dan Deni Prasetyo, sukses dengan kesibukan kalian masing-masing. Aku tidak akan melupakan hari terindah di sebuah SMU dengan beragam kenangan itu..
ΘΘΘ Saudara-saudaraku di KEADILAN yang telah membentuk manusia bakhil ini semakin menyadari akan kekurangan pada pribadinya yang tak terhitung berapapun jumlahnya.
Johan, Syahrul, Adita, Fafa, Zailani, Azmi, Putri, Faisal, Bayu, Nurmaya, Ressy, Adi, Nova, July, Wawan, Rully, Hery, Eko, Suen, Reza, Jafron, Jarot, Pras, Ipam, Heady, IKa, Mia, Iip, Habibi, Aqsa, Lutfan, Ali, Ajeng, Ami, Pito, Anti, Santi, dan lainnya yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu, terima kasih semuanya..
Sebentar lagi, aku akan merindukan kalian, merindukan atmosfir KEADILAN yang ramai dan berbudaya pengetahuan..
ΘΘΘ Kawan-kawanku di RIMAQ, Remaja Islam Masjid Al-Arqom.
Anton, Fitri, Prima, Santo, toni, Nita, Rohmad, Taufiq, Ruri, Dwi laki, Dwi Perempuan, Kiki, Ulin, Alm. Fuad Adi, Hamid, Ika, Nisa, Mila, Eko, Esti, Anjar, Ari, Veri, Alex, Dodi, Adi, Adam, Desi, Heni, Agus, Yuli, Andri, Heru, Ridwan, Iwan, Didik, Atik, Wely, Aji, Mei, Istiqlal, Yuni, Soni, dan lainnya juga yang tidak dapat aku sebutkan karena banyaknya, makasih semuanya sudah bekerja sama dengan pemimpin yang kurang waras ini..
Bukan aku meninggalkan kalian, tetapi aku hanya menjaga kalian dari kyai-kyai busuk yang selalu mengombang-ambingkan kita. Telah membuat beberapa teman kita tidak mempunyai pekerjaan, bingung dengan kuliahnya, putus pendidikannya dan membuat pula persatuan kita tercerai berai seperti halnya sekarang ini. Biarlah mereka sendiri yang akan menanggung dosanya. Semoga ada manfaat yang diperoleh setelah masaku berakhir beberapa bulan lagi kawan..
ΘΘΘ Teman-teman HMI Majlis Penyelamat Organisasi.
Syafi’ie, Syamsul, Dodi, dan semua yang tidak bisa kutulis satu persatu karena keterbatasan ingatanku, terima kasih sekali telah memberiku pelajaran yang berharga. Semoga kalian tetap mencari ilmu dimanapun berada..
ΘΘΘ Partner-partnerku di JHTC jo JEC, Jogja Honda Touring Community jo Jogja Expedition Community.
Andi dan Joko beserta segenap kawan JHTC jo JEC yang selalu saya beri penghormatan, terima kasih tidak henti terucap. Memang kebahagian yang diperoleh adalah kebahagiaan yang kita dapatkan dengan bersenang-senang melalui prinsip bahwa ada pelajaran yang bermanfaat dari setiap perjalanan yang kita lakukan..
ΘΘΘ Yang tidak akan kulupa, yang selalu aku ingin didekatnya, Pak Dheku, Abdul Hafidz dan Kakakku, Suen Herief.
Semoga Tuhan memeliharakan hati, fikiran, dan langkah kita menuju jalan kesalehan diri dan sosial, hingga kita berguna bagi orang ramai..
ΘΘΘ Kedua orang tuaku yang selalu memberi arah hidup, Ayahanda xxx dan Ibunda xxx. Calon-calon penghuni surga Allah SWT.
……….
Rasa syukur kulafalkan kepada Yang Maha Pemberi Keputusan, Allah SWT., yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengeluarkan isi hatinya..
Tiada kata yang pantas diucapkan selain pujian terhadap-Mu ya Robb..
Kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mulah aku memohon pertolongan..
JUM’AT, 1 DESEMBER 2006
CURICULUM VITAE PENULIS
M. Wildan Nafi’, lahir disebuah kota kecil yang konon dikatakan berbudaya asor, Yogyakarta, pada tanggal masehi 6 Mei 1985.
Ditempa bersama kedua orang tua yang salah satunya berasal dari kota Madiun, tempat rezim NASAKOM terbentuk, dan yang satunya lagi kecil berada pada lingkungan di sekitar kehidupan militer dengan pertentangan dari bentuk NASAKOM itu sendiri, yang tidak diarahkan oleh seseorang yang dituakan dikarenakan orang yang seharusnya membimbingnya telah dihadapkan pada alam kubur, yakni disebuah desa dengan nama Babadan Baru, Yogyakarta dimana penulis juga lahir di sana.
Diberikan 3 orang adek yang disayang membuat hatinya selalu tergerak untuk memberikan yang terbaik bagi kedua orang tuanya walaupun dalam prakteknya ia selalu dipertanyakan rasa hormatnya kepada kedua orang tuanya itu. Seorang adek perempuan yang tengah mengenyam ilmu di sebuah perguruan tinggi di daereah Yogyakarta, xxx, seorang adek laki-laki yang belajar di sekolah menengah pertama di kawasan sleman, xxx, dan seorang lagi adek laki-laki yang disekolahkan di xxx, tepatnya.
Memilih berpendidikan sebagai mahasiswa di sebuah lingkungan parlente, UII fakultas hukum, ia jadikan kehidupan sekitarnya itu sebagai pelajaran dunia yang berharga walaupun untuk masalah akhirat, kondisi lingkungan tempat ia belajar itu masih terlampau jauh dari keinginan untuk selalu tunduk kepada ajaran agama terlebih untuk meningkatkan rasa ketaqwaan kepada Allah SWT.
Hal yang mungkin dapat dijadikan sebuah renungan dari aktivitas adalah motto hidup yang selalu dipertahankannya.
“ Hidup di dunia harus bermanfaat dengan baik, proses hidup akan tidak sia-sia kalau saja banyak berlimpah materi sehingga ada produktivitas yang selalu dilakukan.
Walaupun, dengan materi itu kebanyakan orang kemudian akan lebih menjadikan seseorang merasa hero bagi dirinya sendiri dan melupakan orang lain, padahal hidupnya sangat bergantung, itu yang tidak baik dan harus dihindarkan “